0
Ket. Foto: Penduduk Desa Daeo bersama kepala kampung (memakai tuala) di Morotai, 1945.


Waktu zaman Hindia Belanda


Morotai dan banyak pulau lain di cuilan timur tak sekeras cengkeraman kolonialismenya menyerupai di Pulau Jawa. Orang-orang Morotai hidup dalam kesederhanaan.

“Orang lokal Morotai masih berpakaian kulit kayu Ganemo atau Malijo. Itu Suku Galela dan Suku Tobelo,” kata Muhlis Eso, seorang penggiat sejarah dan wisata setempat.


Mereka menyambung hidup dengan cara melaut dan berkebun. Selain itu ada juga yang jadi cacanga alias bajak laut.

Baca : Pattimura


Sejak era kolonial, orang-orang Belanda sudah masuk ke Morotai. Satu di antaranya Willem Heybel, pegawai partikelir Belanda. Kedatangan Jepang memengaruhi banyak hal, termasuk hidup Heybel.


Nasib Heybel tanpa juntrungan pada masa pendudukan Jepang. Saat itu orang-orang sipil di Morotai juga merasa terancam oleh kehadiran serdadu Dai Nippon. Orang-orang Morotai dipekerjakan oleh pasukan Hirohito.


“Jepang mempekerjakan orang-orang. Pohon kayu yang besar-besar ditebang, diangkat. Mereka menciptakan jalan dan landasan,” ujar Muhlis Eso.


Nohodeto, yang waktu zaman Jepang masih bocah dan sekarang berusia sekitar 80-an tahun, mengingat bagaimana kehidupan di masa Jepang. Nohodeto mengingat penggalan lagu yang diajarkan militer Jepang. Dengan bahasa gado-gado Jepang-Indonesia, ia bernyanyi: di fajar di maritim timur. Matahari tertinggi bersinar-sinar. Kini saya bangga di dada kita. Penuh-penuh impian kepulauanku. Oseio onasaku.


“[Masa] Jepang bagus. Tapi bila ada salah, kita harus lari, nanti dipukul,” ujar Nohodeto. Seingatnya, serdadu Jepang cepat lupa pernah murka terhadap warga sipil.


“Sebelum pendaratan pasukan Amerika dan sekutunya, surat edaran disebar di daratan Morotai. Orang Morotai mulai lega,” ujar Muhlis.


Pada 15 September 1944, armada Sekutu masuk ke Morotai dari Siyo, Pangeo, Pilowo, Wayabula, Tanjung Gila, dan Joubela. Pulau Morotai dikala itu terbakar oleh bom Sekutu karena serdadu Jepang pantang menyerah, menentukan mundur ke pedalaman.


Setelah pendaratan, pihak Sekutu mencari orang-orang Morotai guna jadi pemandu untuk mengejar serdadu Jepang yang lari ke hutan di pedalaman Morotai. Ada juga orang-orang suku Galela dan Suku Tobelo yang ikut membantu menghancurkan Jepang.


“Orang Suku Galela dan Suku Tobelo terdepan masuk hutan. Apabila ada serdadu Jepang keluar dari hutan, orang Morotai bersembunyi, Amerika dan sekutunya membuang tembakan, hutan menjadi gundul,” cerita Muhlis.

Pasukan Sekutu Suka Meberi Permen



Tak semua serdadu Jepang tewas atau menyerah. Salah satu yang lolos dan gres turun gunung pada 1970-an yakni Teruo Nakamura, yang diabadikan sebagai nama jalan di Morotai.


Berbeda perilaku terhadap pasukan Jepang, berdasarkan Nohodeto dan beberapa orang renta Morotai yang saya temui, tentara Sekutu dipandang baik oleh warga lokal. Mereka yakni tuan-tuan bule Amerika dan Australia yang baik alias Meester voorgoed. Mereka suka bagi-bagi permen, termasuk kepada Nohodeto.


“Hi baby, you lika candy?” dongeng Nohodeto memalsukan ucapan tentara bule dari pihak Sekutu, sebuah insiden lebih dari tujuh dekade lalu.


Pihak yang diuntungkan dari kemenangan Sekutu dalam pertempuran di Laut Pasifik yakni Belanda, yang kontribusinya minim dalam Perang Asia Timur Raya. Nohodeto punya pengalaman jelek dengan seorang tentara Koninklijk Nederlandsch Indische Leger (KNIL) alias Tentara Kerajaan Hindia Belanda. Si tentara itu keturunan Ambon dan menabraknya dikala ia berjualan pisang di masa Belanda menguasai sebentar Pulau Morotai.


Kepergian Sekutu berarti kesempatan bagi Kerajaan Belanda membangun kembali angkatan perangnya.




Di Morotai, Belanda mendirikan Leger Organisatie Corps, yang menjadi rintisan dari pendirian kembali KNIL. Korps ini berperan dalam pendudukan pasukan Nederlandsch Indiƫ Civil Administratie (NICA) alias Pemerintahan Sipil Hindia Belanda di beberapa kota di Indonesia cuilan tengah dan timur. Dan orang-orang Morotai tentu termasuk golongan masyarakat Indonesia yang tidak mendengar Proklamasi 17 Agustus 1945 di Jakarta.



Penuli oleh: Petrik Matanasi

Posting Komentar

 
Top