0

Pada bulan September 1948 atas arahan dari Pengurus Besar 𝗣𝗜 dibuat lagi satu tubuh diam-diam dengan diberikan nama 𝗕𝗮𝗸𝘁𝗶. Pimpinan tubuh itu berjumlah 8 orang: 𝘒𝘢𝘥𝘦𝘳 𝘏. 𝘈𝘩𝘮𝘢𝘥, 𝘔.𝘚. 𝘋𝘫𝘢𝘩𝘪𝘳, 𝘈𝘣𝘶𝘣𝘢𝘬𝘢𝘳 𝘉𝘢𝘤𝘩𝘮𝘪𝘥, 𝘛𝘫𝘪 𝘗𝘶𝘳𝘣𝘢𝘺𝘢, 𝘞𝘢𝘩𝘢𝘣 𝘒𝘢𝘴𝘪𝘮, 𝘔. 𝘕𝘶𝘳 𝘈𝘥𝘢𝘮 𝘢𝘭𝘪𝘢𝘴 𝘚𝘢𝘣𝘵𝘶, 𝘔𝘶𝘯𝘢𝘴𝘦𝘳 𝘈𝘻𝘪𝘴 𝘥𝘢𝘯 𝘙.𝘔.𝘔. 𝘋𝘫𝘢𝘩𝘪𝘳. Badan ini bersifat ilegal dengan kiprah pokok mencari dan mengumpulkan senjata-senjata untuk persiapan mengadakan perlawanan terhadap Belanda.


Bulan pertama sehabis 𝗕𝗮𝗸𝘁𝗶 dibuat telah berhasil memperoleh 40 pucuk senapan yang berhasil diambil dari telaga/danau di Galela bersama ribuan pelurunya. Senjata itu dibuang oleh Tentara Jepang pada dikala mereka kalah perang melawan Sekutu. Berhubung pada dikala itu gres sanggup terkumpul 40 pucuk senjata sehingga rencana untuk pemberontakan belum sanggup dilakukan. Dari hasil rapat 𝗕𝗮𝗸𝘁𝗶 jalan keluar untuk memperoleh senjata yang banyak tidak ada jalan lain terkecuali melaksanakan tukar barang dengan 𝙠𝙤𝙥𝙧𝙖 di Filipina.

Munaser Azis ditugaskan kesana dengan membawa 10 ton 𝙠𝙤𝙥𝙧𝙖 pinjaman dari orang bau tanah H. Mare berjulukan Faray Azis. Senjata berhasil diperoleh sebanyak 1.000 pucuk lengkap dengan peluru termasuk senjata otomatis. Sayangnya senjata-senjata ini terpaksa dibuang diperairan Sanger Talaud sewaktu bahtera penes yang memuat senjata dicegat oleh motor patroli Belanda. Munaser Azis lalu dituntut sebagai penyelundup 𝙠𝙤𝙥𝙧𝙖 alasannya yaitu tidak terdapat bukti-bukti yang lain.


Usaha ini gagal lagi, dengan mandat dari 𝗣𝗜 yang ditanda tangan oleh Aryad Hanafi dan M.S. Djahir masing-masing sebagai Ketua dan Sekertaris Jenderal, Abubakar Bachmid diperintahkan segera ke Jakarta untuk menghubungi para pejuang dalam perjuangan meminta bantuan. Keberangkatan ini dikala RMS siap memproklamasikan keluar dari RI. Dan sewaktu datang di Jakarta beberapa tokoh yang akan dihubungi sedang mengikuti Konperensi Meja Bundar. Walaupun demikian Presiden Ir. Soekarno sanggup ditemui juga dan pribadi disampaikan pernyataan kesetiaan Rakyat Maluku Utara tetap dengan Republik Indonesia. Beberapa hari lalu Wapres M. Hatta dan Sri Sultan Hamengku Buwono sanggup ditemui juga.

Untuk memenuhi usul dari 𝗕𝗮𝗸𝘁𝗶 atas nama Rakyat Maluku Utara, Abubakar Bachmid yang didampingi Bapak Arnold Mononutu, Pemerintah RI menugaskan pasukan dari 𝗕𝗮𝘁𝗮𝗹𝘆𝗼𝗻 𝗕𝗿𝗮𝗻𝗷𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 dengan komandannya Mayor Mujain ke Ternate. Pasukan ini disambut Rakyat dengan besar hati alasannya yaitu merupakan Tentara Nasional Indonesia yang pertama masuk di Ternate.

Selanjutnya kepada 8 orang yang menjadi pimpinan 𝗕𝗮𝗸𝘁𝗶 diminta kesediaannya untuk tetap didalam Angkatan Perang RI dengan diberikan pangkat Letnan Satu. Tak ada satu orangpun yang mendapatkan semua menolak, dan hanya bersedia menjadi pembantu tetap Staf I Teritorium VII Wirabuana mencakup Indonesia Timur. Komandan Staf I pada waktu itu yaitu Kapten Rumambi dan berkedudukan di Makassar.

Baca : Pattimura

𝘋𝘪𝘬𝘶𝘵𝘪𝘱 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘣𝘶𝘬𝘶: 𝘗𝘦𝘳𝘫𝘶𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘙𝘢𝘬𝘺𝘢𝘵 𝘔𝘢𝘭𝘶𝘬𝘶 𝘜𝘵𝘢𝘳𝘢 𝘔𝘦𝘮𝘣𝘦𝘣𝘢𝘴𝘬𝘢𝘯 𝘋𝘪𝘳𝘪 𝘋𝘢𝘳𝘪 𝘒𝘰𝘭𝘰𝘯𝘪𝘢𝘭𝘪𝘴𝘮𝘦. 𝘏. 𝘏𝘢𝘮𝘪𝘥 𝘒𝘰𝘵𝘢𝘮𝘣𝘶𝘯𝘢𝘯.

Posting Komentar

 
Top