0

Tolire

Adalah satu danau yang dalamnya kira-kira 100 meter dengan airnya yang berwarna kehijau-hijauan. Di dalamnya terdapat seekor buaya yang panjangnya kira-kira 5 meter, dengan ikatan merah pada lehernya.
Menurut legenda rakyat Maluku Utara, buaya itu terkadang menyerupai jadi-jadian. Oleh sebab itu, di sana ada pawangnya. Bila seseorang mengunjungi Danau Tolire besar dan mau melihat buaya ia sanggup turun dari sebelah darat dan meminta tolong kepada pawang.

Baca Juga : Sejarah Kerajaan Gapi 


Pawang itu akan memanggil buaya dengan cara menawarkan telur dan ikan. Jadi, seorang melihat ada buaya dengan ikatan merah di lehernya, itu berarti akan sanggup berbicara dengan buaya itu. Bagaimana caranya, hanya pawang itu yang tahu.
Tolire sekarang merupakan daerah berkunjung bagi setiap orang yang ingin melihat keindahan alamnya. Tolire Gam Jaha atau 'tolire kampung tenggelam' ialah suatu kutukan dewa. Tadinya, Tolire ialah sebuah kampung yang kondusif dan sentosa menyerupai kampung-kampung lain di kesultanan Ternate pada waktu itu.
Pada umumnya masyarakat kampung Tolire sangat menghormati leluhur-leluhur mereka. Mereka banyak yang menciptakan sesajen-sesajen sebagai tanda terima kasih kepada dewa-dewa yang telah melindungi mereka dari marabahaya. Sebelum sesajen atau upacara dimulai, segala keperluan yang berafiliasi dengan upacara itu telah disiapkan oleh penerima upacara.

Baca Juga : Sejarah Boki Nukila


Mereka menggunakan pakaian yang berwarna-warni untuk lebih menambah semaraknya upacara. Bunyi gong dan tifa/gendang mengiringi para penari yang lemah gemulai menampilkan kebolehannya. Tuak dan arak pun tidak mereka lupakan. Beberapa di antara mereka hingga tak sadarkan diri.
Kepala kampung dengan gagahnya memberitahukan bahwa selama upacara (semalam suntuk) dihentikan ada pelanggaran-pelanggaran yang sanggup menciptakan Yang maha kuasa murka.
Malam pun tiba, dan upacara berjalan dengan hikmatnya. Akan tetapi, mujur tak sanggup diraih malang tak sanggup ditolak, tiba-tiba terjadilah malapetaka yang tidak akan pernah dilupakan oleh siapa pun, terutama rakyat Maluku Utara.
Upacara sesajen yang merupakan upacara etika itu telah membawa malapetaka bagi semua yang hadir pada waktu itu. Tuak dan arak telah menguasai diri mereka masing-masing. Kepala kampung yang pada malam itu menari dengan rakyatnya, tiba-tiba hilang bersama anak gadisnya.
Kecantikan anak gadisnya tak ada bandingannya, rambutnya yang panjang sebatas betis dengan ikat kepala dan pakaian yang berkilauan menciptakan kepala kampung, yang tidak lain ialah bapaknya sendiri itu lupa daratan sebab ia sudah mabuk-mabukan.

Ia tidak tahu lagi bahwa gadis yang sedang di bawah itu ialah anaknya sendiri. Sebagai akibatnya, terjadilah malapetaka yang menimpa insan yang sedang tidur lelap.

Di antara penghuni kampung itu ada seorang ibu yang terbangun menjelang subuh sebab akan menyusui anaknya.


Tiba-tiba sang ibu mendengar bunyi kokok ayam kukuruyuk tolire gam jaha yang artinya 'kukuruyuk Tolire kampungnya akan tenggelam'. Suara kokok ayam ini terdengar lagi hingga tiga kali.
Setelah mendengar bunyi kokok ayam ini, perasaan takut tiba-tiba ada pada dirinya. Ia lalu ambil keputusan. Dengan menggendong anaknya yang masih kecil, ia melarikan diri dari kampung. Tidak usang kemudian, terdengarlah gemuruh air dan benturan-benturan kerikil yang keras bunyinya.
Ia pun sadar bahwa kampung Tolire akan tenggelam. Sebelum kampung Tolire karam anak gadis kepala kampung ingin lari ke pantai hendak menyelamatkan diri dengan bahtera sampan milik para tetamu yang hadir pada perjamuan sesajen itu.
Namun, gres saja anak gadis itu hingga di tepi pantai mendadak tanah di hadapannya pecah dan di sekitarnya tergenang air, membentuk tolire kecil. Tolire itu, yang kira-kira berjarak 50 meter dari laut, mempunyai kedalaman 6-7 meter.
Pada kedalaman itulah gadis kepala kampung itu terkubur di dasar Tolire. Hal itu sebagai tanda bahwa Tolire karam merupakan daerah penimbunan manusia-manusia berdosa.
Jadi, Tolire besar itu ialah orang tuanya dengan masyarakat yang berbuat dosa yang ada di situ, sedangkan Tolire kecil ialah anak gadisnya.


Di ceritakan Oleh : kapita Morodoku

Posting Komentar

 
Top